Relawan Muhammadiyah Tempuh Puluhan Kilometer Dalam Evakuasi Warga Terdampak Banjir dan Longso di Banjarsari

  • Bagikan

8/1/2020

Lebak – Bila awal Januari ini warga di beberapa daerah menderita karena banjir atau bencana longsor. Lain halnya dengan desa Banjarsari yang berada di kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak Banten. Warga di desa yang bertetangga dengan sungai Cibeurem itu justru menderita karena banjir dan longsor yang datang bersamaan.

Dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.com, bencana ganda itu bermula dari hujan deras yang turun nyaris tanpa jeda mengguyur Lebak Gedong. Situasi ini menyebabkan debit air sungai Cibeurem meningkat drastis dan meluber ke desa-desa di kedua sisinya.

Banjir dengan tinggi bervariasi mulai dari setinggi lutut hingga ke dada orang dewasa, tak dapat dielakan. Bencana ini tak sekedar merendam kebun dan persawahan, tetapi juga merusak rumah-rumah warga dan fasilitas vital warga setempat.

Malang untuk desa Banjarsari, disamping desa mereka direndam air bercampur lumpur, pada saat yang sama bukit-bukit di sekitar desa mereka longsor.

Longsor terjadi di sejumlah titik. Warga desa Banjarsari korban banjir yang hendak mengungsi ke luar desa terpaksa mengurungkan niatnya, karena longsor juga menyebabkan akses jalan mereka putus tertutup longsor. Perlu alat berat untuk membersihkannya.

“Saat kami berhasil masuk ke desa Banjarsari empat hari lalu masih banyak warga yang terjebak. Mau mengungsi tak bisa, bertahan tetapi kekurangan bahan pangan,” ungkap ketua tim rescue SAR Mapala Muhammadiyah Indonesa (SARMMI), Agus Tersiantoro pada Selasa (7/1)

Agus masuk desa Banjarsari berjalan kaki bersama tiga anggota Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta. Sesampainya di sana mereka langsung membagikan logistik kebutuhan dasar pengungsi. Aneka bantuan ini berasal dari donasi beberapa Mapala anggota SARMMI seperti Stacia UMJ, Mapala UMRI, CAMP STIEM Jakarta, serta dari pihak lain di luar Muhammadiyah.

“Setelah itu kami mengevakuasi warga ke pengungsian di desa Cigobang. Untuk sampai ke desa Cigobang kami dan warga jalan kaki selama empat jam. Di perjalanan kami sering kehujanan,” lanjutnya.

Diterangkan pula, meski menderita selama beberapa hari dan berjalan kaki menerobos hujan, rata-rata kondisi kesehatan warga dalam keadaan baik. Beberapa warga yang sakit telah ditangani intensif oleh pihak medis. Namun beberapa warga desa Banjarsari mengaku belum berani pulang ke desanya. Mereka trauma.

“Banjir dan longsor yang terjadi bersamaan, menanamkan kenangan buruk di benak warga, karena masih trauma, mereka akan bertahan beberapa saat di pengungsian. Dua bencana itu juga melumpuhkan ekonomi mereka. Kami menghimbau masyarakat luas membantu warga Banjarsari. Terutama bantuan pangan,” pungkasnya.

  • Bagikan