Oknum Anggota Polri Menyekap dan Memeras Seorang WNA Asal Inggris

  • Bagikan

Seorang warga negara asing (WNA) asal Inggris bernama Matthew Simon Craib menjadi korban penculikan dan penyekapan. Parahnya, penyekapan itu diduga melibatkan empat orang polisi. Melalui keterangan tertulis, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan kabar tersebut.

“Telah terjadi penyekapan terhadap warga sipil (WNA Inggris) yang melibatkan anggota Polri sesuai  No. LP/7002/X/2019/PMJ/Ditreskrimum tanggal 31 Oktober 2019, dengan pelapor atas nama saudari Vitri Lugvianty,” terang Argo melalui keterangan tertulis yang diterima IDN Times di Jakarta, Minggu malam (3/11/2019).

Argo menjelaskan, awalnya Matthew hendak bertemu dengan seseorang terkait urusan pekerjaan, Selasa lalu (29/10). Matthew memberi tahu Vitri soal pertemuan itu.

Rabu dini hari (30/10), sekitar pukul 02.00 WIB, Matthew memberi kabar VItri bahwa dirinya dalam perjalanan pulang. Namun, setelah ditunggu-tunggu, dia tidak kunjung tiba di kediamannya.

“Kemudian diketahui bahwa korban diculik oleh orang yang tidak dikenal dan melibatkan oknum anggota Polri dengan meminta tembusan sebesar US$1 Juta,” ungkap Argo.

Vitri pun segera mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya untuk melaporkan hilangnya Matthew. Laporan itu diterima pihak Polda Metro pada Kamis pagi (31/10), sekitar pukul 08.00 WIB.

Argo lalu merincikan peran para pelaku penyekapan Matthew. Pertama, Giovani yang merupakan rekan kerja dari Matthew. Giovani meminta kekasihnya yang bernama Nola Aprilia untuk merencanakan aksi penyekapan tersebut.

Kemudian, Nola meminta bantuan kepada saudaranya yang merupakan anggota Siber Bareskrim Mabes Polri. Dia adalah Bripda Julia Bita Bangapadang. Bripda Julia berperan untuk menyiapkan mobil, mengecek keberadaan, dan membuntuti Matthew.

Tak hanya itu, Bripda Julia juga meminta bantuan kekasihnya, Bripda Nugroho Putro Utomo. Bripda Nugroho merupakan anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Metro Jakarta Timur.

“Kemudian melakukan pencegatan di Lingkar Luar Barat Tangerang setelah membuntuti dari Petogokan Park 19. Dibantu oleh rekannya masing-masing atas nama Briptu Herodotus dan Bripka Sandika Bayu Segara,” beber mantan Kabid Humas Polda Jatim tersebut.

Para pelaku kemudian membawa Matthew ke Mapolda Metro Jaya. Para polisi itu seolah-olah sedang menangani suatu perkara.

“Namun, tidak jadi dilakukan pemeriksaan. Kemudian meminta bantuan petugas Provos, yang saat itu berjaga di area Parkir Ditreskrimsus untuk memasukkan kembali korban ke dalam mobil,” kata Argo.

Matthew sendiri sempat meminta diantar ke tempat atasannya yang bernama Pitt. Akan tetapi, pelaku membawa Matthew ke sebuah hotel. Di sana, mereka menginterogasi Matthew.

“Selanjutnya korban mengaku memiliki tiga buah arloji merek Rolex dan 300 gram perhiasan,” tambahnya.

Selanjutnya, para pelaku meminta uang cash dan menyuruh Matthew menghubungi Pitt untuk meminta uang tebusan.

“Korban hanya bisa menyerahkan US$400 ribu. Namun, setelah terjadi negosiasi, diperoleh sejumlah (uang cash) US$900 ribu,” lanjut alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersebut.

Setelah mendapatkan uang tersebut, para pelaku menuju kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka menukarkan uang yang diperoleh menjadi mata uang rupiah. Sekitar pukul 13.00 WIB, polisi berhasil menangkap para pelaku di Masjid Akbar Kemayoran, Jakarta Pusat.

“Pelaku dalam lidik tentang tindak pidana penculikan dan atau merampas kemerdekaan seseorang dan atau pemerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 328 KUHP dan atau Pasal 333 KUHP dan atau Pasal 368 KUHP,” terang perwira polisi dengan tiga melati di pundak itu.

  • Bagikan