oleh

Gamelan Jawa Alat Musik Tertua di Dunia

Gunungkidul, Kliksaja Jogja – Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kabupaten Gunungkidul menggelar lomba menabuh gamelan di Bangsal Sewokoprojo (BSP) selama dua hari, 09-10 Juni 2021.

Melansir dari situ Infogunungkidul.com, Seluruh peserta dari 18 kapanewon rata-rata terampil. Tetapi ada hal yang hilang dari kesadaran mereka. Pertama kapan gamelan Jawa diciptakan, kedua mengapa gamelan Jawa harus dilestarikan.

Ada klaim sepihak bahwa kebudayaan tertua di dunia berpusat di Yunani. Sementara fakta menunjukkan bahwa klaim itu salah, karena kebudayaan tertua berada di tanah Jawa.

Dalam mitologi Jawa gamelan diciptakan pada 167 tahun saka, bersamaan dengan 230 tahun Masehi. Sejauh itulah orang Jawa telah mengenal teknologi logam.

Gamelan Jawa dikenal jauh sebelum orang Persia menciptakan alat musik petik kuno dari senar dan kayu dalam bentuk gitar pada tahun 1500 Masehi.

Gamelan Jawa, hingga 2021, bahkan sampai dunia ini gulung tikar, dengan dua tangga nada slendro pelog, setara dengan mayor dan minor, tidak akan lenyap dari muka bumi.

Sebagian orang Eropa justru banyak yang gandrung, kemudian mempelajari teknik menabuh gamelan Jawa.

Sudah ada sejak abad ke-8

Penyebutan tangga nada slendro atau salendro secara historis ada yang mengaitkan dengan kerajaan Syailendra yang berpusat di Karisidenan Kedu abad ke-8 tempo dulu.

Tidak salah jika Bupati Gunungkidul Sunaryanta dalam memimpin Gunungkidul mempersonifikasikan dirinya berada di dalam Gongso Agung Mataram.

“Bupati adalah penabuh Kendang. Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) merupakan wujud dari gender barung, gender peking, slenthem, saron, demung, bonang barung, bonang penerus, ketuk kenong, rebab, siter, suling serta gong,” ucap Sunaryanta di berbagai kesempatan.

Di alam kebudayaan penabuh kendang merupakan mayoret harmoni. Seluruh penabuh patuh pada pengendang (pemimpin).

Di alam nyata, kesadaran mengikuti pemimpin itu tiba-tiba menghilang. Ini perilaku yang tidak pernah disadari. Banyak contoh, bahwa mengeluarkan suara waton muni, dengan alasan berpendapat itu adalah hak setiap orang.

Instrumen gamelan yang satu dengan lainnya juga cerminan dari suara (pendapat) yang berbeda-beda, tetapi toh tetap terpimpin oleh kendang.

Presiden Soekarno menjadi tidak keliru, bahwa pada masanya dia mencetuskan gagasan Demokrasi Terpimpin. Gamelan Jawa itulah yang menginspirasinya.

Pelestarian dalam lomba menabuh gamelan Jawa di BSP itu sesungguhnya bukan sekedar pelestarian fisik, tetapi juga pelestarian kesadaran berperilaku di jagat hubungan antar manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Nah, hal yang terakhir itulah yang belum tercapai, terlebih di jagat pasrawungan politik. (*)

Umpan Berita